Author name: PKBI Daerah Bali

PKBI Daerah Bali

“Kalau Tidak Ada Pemerkosaan, Berarti Aman?” Refleksi Cara Pandang Masyarakat terhadap Isu Kekerasan

Oleh: Ni Made Tariani Pengumpulan data baseline yang dilakukan Tim Program Tantri melalui berbagai metode interaktif mulai dari survei, wawancara mendalam, hingga diskusi kelompok bersama siswa, remaja, guru, orang tua, perangkat desa, hingga dinas terkait menghadirkan banyak refleksi penting tentang bagaimana masyarakat memandang isu kekerasan. Baseline ini bukan hanya menjadi proses pengumpulan data awal, tetapi […]

“Kalau Tidak Ada Pemerkosaan, Berarti Aman?” Refleksi Cara Pandang Masyarakat terhadap Isu Kekerasan Read More »

Ruang Belajar yang Mengubah Cara Pandang

Oleh: Putu Zilly Widyanti Ada kalanya sebuah ruang tidak hanya menjadi tempat menerima informasi, tetapi juga menjadi tempat untuk meruntuhkan cara pandang lama. Pengalaman mengikuti capacity building dalam program Tantri bersama PKBI Bali di Denpasar menjadi salah satu momen tersebut sebuah ruang yang pelan-pelan mengajak untuk melihat isu sosial dengan cara yang lebih utuh. Isu

Ruang Belajar yang Mengubah Cara Pandang Read More »

Mendengar Tanpa Menghakimi, Layaknya Tanah yang Menerima Hujan Tanpa Memilih

“Dari hal sederhana itu, saya mulai memahami arti komitmen. Bahwa ruang aman tidak hadir begitu saja. Ia diciptakan, dirawat, dan dijaga bersama.” Refleksi oleh: Ni Putu Karlina Dewi “Bisakah kita tetap memberi walau tak suci? Bisakah terus mengobati walau membiru?” — Hindia & Rara Sekar, “Membasuh” Ketika jari ini gundah hendak menggores, menulis, atau sekadar

Mendengar Tanpa Menghakimi, Layaknya Tanah yang Menerima Hujan Tanpa Memilih Read More »

Mendengarkan Bu Darmi: Suara-Suara Sunyi Perempuan Bali

Refleksi oleh: Komang Ari, Tim Program Tantri PKBI Daerah Bali “Kututurkan sebuah cerita Kisah sedih yang jadi biasa Karena kita menutup mata” Apa yang terlintas ketika pertama kali mendengar lagu ‘Bu Darmi’ milik grup musik kawakan asal Bali, Nosstress? Lagu yang dirilis 2021 silam ini berdurasi kurang dari enam menit. Meski demikian, setiap liriknya seolah

Mendengarkan Bu Darmi: Suara-Suara Sunyi Perempuan Bali Read More »

Antara Cinta dan Luka : Toxic Relationship Jadi Faktor Penurunan Kesehatan Mental Remaja

Oleh: Inggrid Masa remaja seringkali dipandang sebagai fase kehidupan yang paling indah dan berkesan bagi setiap individu. Pada masa ini, individu akan mengalami banyak perubahan baik secara fisik, sosial, dan emosional. Hal tersebut tentu juga akan mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan dengan individu lain. Salah satu aspek yang sangat menonjol pada fase remaja adalah

Antara Cinta dan Luka : Toxic Relationship Jadi Faktor Penurunan Kesehatan Mental Remaja Read More »

Merespons Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

Denpasar  – Riuh ramai terdengar berbeda di salah satu venue Berbagi Ruang & Kopi pada Sabtu (17/1). Jika biasanya ia dipenuhi oleh teriakan bebas para penonton konser, kali ini terpasang berbagai instalasi kolaboratif dengan corak warna cerah dan meriah. Kesan inilah yang ingin dibuat oleh PKBI Daerah Bali dalam pameran MANUSIA 4.0: Diver(city). Memupuk harapan

Merespons Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city) Read More »

Apa Arti Menjadi Dewasa di Sekitar Remaja?Tentang Norma, Kekerasan, dan Tanggung Jawab Kita.

Catatan Refleksi Akhir Tahun Sekolah AMAN. oleh: Ima Gita. Pada suatu pelatihan, saya sedang memperhatikan sesi tentang Sex vs Gender di tengah para peserta yang sebagian besar merupakan guru. Saat membahas soal perbedaan antara laki-laki dan perempuan, seseorang beropini, “Kalau laki-laki sarapannya pisang, telornya dua ditaruh di sampingnya.” Kita semua tahu ia sedang menggambarkan alat

Apa Arti Menjadi Dewasa di Sekitar Remaja?Tentang Norma, Kekerasan, dan Tanggung Jawab Kita. Read More »

Norma Gender dan Bullying di Sekolah: Mengapa Pelatihan Sekolah Aman Perlu Membahas Gender?

Bullying seringkali dipahami sebagai persoalan perilaku individu: ada pelaku, ada korban, lalu solusi dianggap cukup dengan menegur atau menghukum. Namun, pendekatan ini kerap gagal menyentuh akar masalah. Banyak praktik perundungan justru tumbuh dari sesuatu yang dianggap “normal” dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, yaitu norma gender sebagai aturan tidak tertulis tentang bagaimana anak laki-laki dan perempuan

Norma Gender dan Bullying di Sekolah: Mengapa Pelatihan Sekolah Aman Perlu Membahas Gender? Read More »

Bencana, Remaja dan Jeda Bersama

Tanggal 21 Desember Kisara PKBI Bali melaksanakan kegiatan di Teman Sayur. Di tengah padatnya Kota Denpasar, di antara bangunan yang rapat dan ritme hidup yang serba cepat, Kisara mengajak remaja untuk berhenti sejenak. Merekam kilas balik perjalanan satu tahun, menarik napas, mengendapkan rasa, dan saling menguatkan. Kegiatan bertajuk “Jeda Sejenak: Menangkap Kekuatan dan Membangun Collective

Bencana, Remaja dan Jeda Bersama Read More »

Bullying dan Tren Menyakiti Diri Sendiri pada Remaja: Alarm yang Tak Bisa Diabaikan

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental remaja semakin mendapat sorotan. Di balik aktivitas sekolah, pergaulan, dan media sosial, banyak remaja menghadapi tekanan emosional yang tidak selalu terlihat. Salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm), yaitu tindakan melukai tubuh secara sengaja tanpa tujuan bunuh diri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa

Bullying dan Tren Menyakiti Diri Sendiri pada Remaja: Alarm yang Tak Bisa Diabaikan Read More »

Scroll to Top