Kolase Foto Kisara

Ketika Diam Menjadi Pilihan Terakhir: Mengapa Remaja Kita Takut Mencari Bantuan?

Beberapa waktu terakhir adanya kasus jenazah bayi di Bali yang mengundang perhatian publik karena melibatkan remaja. Fakta ini menjadi refleksi bagi kita semua bahwa di balik sebuah peristiwa yang mengundang perhatian publik, sering kali terdapat lapisan kerentanan yang jauh lebih kompleks. Peristiwa seperti ini tidak dapat dilihat semata-mata sebagai tindakan individu, melainkan sebagai cerminan dari berbagai tantangan yang dihadapi remaja dalam proses tumbuh kembangnya.

Remaja, khususnya remaja perempuan, berada dalam fase kehidupan yang penuh perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Pada saat yang sama, mereka sering kali dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari ekspektasi keluarga, norma sosial, relasi yang tidak setara, hingga minimnya ruang aman untuk bertanya dan mencari bantuan ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, maupun kesehatan reproduksi.

Dalam situasi tertentu, kerentanan tersebut dapat menjadi berlapis. Ketika seorang remaja mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, misalnya, ia tidak hanya menghadapi perubahan pada tubuhnya, tetapi juga rasa takut, kebingungan, kecemasan, dan kekhawatiran akan stigma sosial. Ketakutan terhadap penolakan, penghakiman, atau hukuman dari lingkungan sekitar seringkali mendorong remaja untuk menyembunyikan kondisi yang mereka alami. Mereka memilih diam, menanggung beban seorang diri, dan menjauh dari sumber bantuan yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.

Pilihan untuk menyembunyikan diri seringkali bukan lahir dari ketidakpedulian, melainkan dari perasaan bahwa tidak ada ruang yang aman untuk bercerita. Ketika remaja merasa tidak akan dipahami, tidak dipercaya, atau bahkan disalahkan, mereka cenderung mengisolasi diri dan mengambil keputusan dalam kondisi yang penuh tekanan. Pada titik inilah risiko terhadap keselamatan dan kesejahteraan mereka semakin meningkat.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat celah dalam sistem dukungan yang mengelilingi remaja. Banyak remaja belum memiliki akses yang memadai terhadap informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi, relasi yang sehat, persetujuan, dan tanggung jawab terhadap tubuh serta pilihan hidupnya. Di sisi lain, belum semua keluarga, sekolah, maupun komunitas memiliki kapasitas untuk menjadi ruang yang aman dan suportif ketika remaja menghadapi persoalan yang sensitif.

Nilai-nilai yang diangkat melalui kisah Ni Dyah Tantri memberikan pelajaran penting bahwa pengetahuan merupakan salah satu bentuk perlindungan yang paling mendasar. Ni Dyah Tantri menggunakan kebijaksanaan, dialog, dan pemahaman untuk menghadapi berbagai persoalan. Semangat tersebut relevan dengan kebutuhan remaja saat ini, yaitu mendapatkan informasi yang benar, kesempatan untuk didengar, dan dukungan yang memungkinkan mereka mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan melalui pendekatan yang berfokus pada konsekuensi semata. Upaya yang lebih mendasar adalah membangun ekosistem yang mampu mendukung remaja sebelum mereka berada dalam situasi krisis. Remaja membutuhkan orang dewasa yang dapat dipercaya, keluarga yang terbuka untuk berdialog, lingkungan pendidikan yang memberikan pengetahuan yang memadai, serta komunitas yang tidak terburu-buru menghakimi ketika mereka mengalami kesulitan.

Setiap kasus yang melibatkan remaja seharusnya menjadi refleksi bersama tentang bagaimana masyarakat dapat memperkuat perlindungan, bukan hanya setelah sebuah peristiwa terjadi, tetapi sejak awal melalui pendidikan, pendampingan, dan penciptaan ruang aman. Dengan memperkuat pengetahuan, kesadaran, dan sistem dukungan di sekitar remaja, kita dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih sehat, aman, dan bermartabat.

Share this post

Scroll to Top