
Perubahan nggak harus menunggu seseorang menjadi dewasa. Justru banyak perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan remaja. Ungkapan remaja sebagai Agent of Change merupakan bukti bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam membawa perubahan yang positif bagi lingkungan sekitarnya, salah satunya melalui upaya sederhana untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Di tengah dinamika dan kompleksitas tantangan saat ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar dan mengerjakan tugas, namun sekolah juga harus mampu menjadi ruang aman bagi setiap siswa untuk tumbuh, berekspresi, dan menjaga kesehatan mental mereka. Sayangnya realitas menunjukkan bahwa kasus perundungan, baik fisik, verbal, dan media digital, hingga persoalan kesehatan mental masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak remaja di lingkungan sekolah. Situasi ini tentu sangat membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, termasuk siswa sebagai kelompok yang paling dekat dengan keseharian teman sebayanya untuk turut menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan suportif bagi setiap individu.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bali menginisiasi kegiatan Youth Champion sebagai salah satu bagian dari program Sekolah Aman. Youth Champion hadir dalam bentuk kegiatan pelatihan bagi setiap remaja terpilih untuk mengembangkan kapasitas diri sebagai pelopor perubahan di sekolahnya masing-masing. Kegiatan yang disingkat dengan YC ini merupakan salah satu bentuk pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan masalah, akan tetapi juga pada pemberdayaan siswa sebagai bagian dari solusi. Secara garis besar kegiatan ini dirancang untuk membekali setiap peserta dengan pengetahuan hingga keterampilan yang dibutuhkan untuk menciptakan sekolah sebagai ruang aman, melalui berbagai materi yang dibungkus dalam bentuk permainan menarik dan praktik nyata.
Pada pelaksanaannya, kegiatan Youth Champion dilakukan di beberapa wilayah di daerah Bali dengan melibatkan sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) di masing-masing wilayah tersebut. Program ini dilakukan secara bertahap di lima (5) kabupaten/kota, mulai dari Buleleng yang melibatkan SMP Negeri 1 Singaraja, SMP Negeri 6 Singaraja, dan SMP Negeri 4 Sukasada, Bangli dan Gianyar melibatkan SMP Negeri 1 Kintamani, SMP Negeri 5 Bangli, SMP Negeri 4 Satap Kintamani, SMP Negeri Hindu 2 Payangan, dan SMP Madya Widya Dharma Suter, serta yang terakhir ialah Denpasar/Badung yang melibatkan SMP Negeri 14 Denpasar, SMP PGRI 3 Denpasar, SMP Negeri 1 Mengwi, dan SMP Cipta Dharma. Selama prosesnya, peserta tidak hanya akan menerima materi melalui metode ceramah, namun peserta juga diajak secara partisipatif melalui berbagai permainan edukatif dan diskusi kelompok guna mendorong mereka untuk berfikir kritis dan berbagi pengalaman, sehingga akan tercipta suasana pelatihan yang aktif, antusias, dan seru bagi seluruh peserta.
Kegiatan Youth Champion dilaksanakan dalam kurun waktu 3 hari di setiap area, dengan materi yang beragam dan berbeda di setiap harinya. Pada hari pertama, peserta diajak mengenali perbedaan antara sex dan gender sebagai dasar untuk memahami mengenai pengaruh peran gender terhadap kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui aktivitas berpindah tempat sesuai pernyataan, sehingga memudahkan peserta untuk memahami konsep-konsep tersebut. Selain itu, peserta juga diajak menyelami dan mengidentifikasi berbagai tantangan yang mereka hadapi, baik di lingkungan sekitar maupun media sosial, melalui sesi Problem Ocean. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil secara acak untuk berdiskusi dan menggali tantangan yang sering terjadi.
Memasuki hari kedua, peserta mulai diajak memahami stereotipe gender serta dampaknya terhadap tumbuh kembang remaja. Pemahaman ini dikemas dalam sesi Sungai Kehidupan, di mana peserta menentukan tujuan hidup mereka sekaligus menyadari berbagai tantangan stereotipe yang ada di lingkungan sekitar. Selanjutnya melalui Privilege Game peserta akan diperkenalkan pada relasi kuasa dalam pertemanan di sekolah serta kaitannya dengan tindak kekerasan atau perundungan yang sering terjadi di lingkungan tersebut. Tidak hanya itu, pada hari kedua ini, peserta juga diajak untuk bermain permainan Ular Tangga Bullying. Dalam permainan ini peserta yang terpilih akan bermain sebagai bidak ular tangga yang berjalan sesuai dengan jumlah dadu. Pada setiap pijakan yang mereka injak, peserta akan dipertemukan dengan berbagai pertanyaan terkait bullying. Sesi ini ditujukan untuk memberikan pemahanan bagi siswa terkait tindak perundungan, pencegahan, hingga penanganan bullying. Hari kedua kemudian ditutup dengan materi kesehatan mental yang disampaikan oleh psikolog untuk memperkuat kesadaran peserta akan pentingnya menjaga kondisi mental.
Pada hari ketiga, peserta dikenalkan dengan hak-hak yang mereka miliki sebagai seorang anak. Sesi ini diisi melalui diskusi kelompok untuk mengetahui hak-hak yang mereka miliki dan bentuk-bentuk pelanggaran atas hak-hak tersebut. Sesi ini bertujuan agar peserta lebih sadar akan hak mereka sekaligus mampu mengenali ketika terjadi pelanggaran. Tidak hanya itu, peserta kemudian dibekali dengan kemampuan melakukan penyuluhan dengan mempelajari teknik menyampaikan pesan secara menarik dan mudah dipahami, yang selanjutnya dipraktikkan melalui penyusunan berbagai media edukasi kreatif, seperti poster, maupun materi kampanye. Pada akhir pelatihan, setiap kelompok menyusun rencana tindak lanjut sebagai bentuk komitmen untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh melalui berbagai kegiatan nyata di sekolah masing-masing. Seluruh rangkaian pelatihan berlangsung dengan pendekatan yang kolaboratif, di mana setiap sesi selalu diikuti dengan diskusi, refleksi, dan berbagi pengalaman antar peserta sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, kontekstual, serta mampu memperkuat semangat para Youth Champion untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan inklusif.