Setiap tahun ajaran baru, ribuan siswa memasuki gerbang sekolah dengan perasaan yang berbeda-beda.
Ada yang datang dengan penuh semangat. Ada yang berdebar karena akan bertemu teman baru. Namun, ada juga yang datang sambil menyimpan rasa takut. Takut tidak diterima. Takut dihakimi. Takut harus menghadapi semuanya sendirian.
Sayangnya, tidak semua luka di sekolah terlihat. Ada luka yang lahir dari ejekan yang dianggap candaan. Dari pengucilan yang dianggap biasa. Dari komentar yang terus diingat hingga bertahun-tahun. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman. Tempat untuk belajar, bertumbuh, dan merasa diterima apa adanya.
Melalui “Mari Mulai Baik”, kami mengajak setiap siswa, guru, dan siapa pun yang peduli pada dunia pendidikan untuk memulai perubahan dari hal-hal sederhana. Dari cara kita menyapa teman, menghargai batasan, berani berkata tidak pada bullying, memahami pentingnya consent, hingga menjadi orang pertama yang hadir ketika seseorang membutuhkan dukungan.
Catatan ini bukan sekadar kumpulan informasi. Ia adalah ajakan untuk berhenti sejenak, melihat kembali bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan menyadari bahwa satu tindakan kecil bisa mengubah hari, bahkan hidup, seseorang. Karena sekolah yang aman tidak dibangun oleh aturan saja. Sekolah yang aman dibangun oleh orang-orang yang memilih untuk saling peduli.
Unduh catatan ini, baca bersama teman, keluarga, atau guru, lalu mulailah satu kebaikan hari ini. Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh sekolah dalam semalam. Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil.
Mari Mulai Baik. Karena setiap orang berhak merasa aman di sekolah.