DSC05462

Ruang Belajar yang Mengubah Cara Pandang

Oleh: Putu Zilly Widyanti

Ada kalanya sebuah ruang tidak hanya menjadi tempat menerima informasi, tetapi juga menjadi tempat untuk meruntuhkan cara pandang lama. Pengalaman mengikuti capacity building dalam program Tantri bersama PKBI Bali di Denpasar menjadi salah satu momen tersebut sebuah ruang yang pelan-pelan mengajak untuk melihat isu sosial dengan cara yang lebih utuh. Isu pernikahan dini, misalnya, seringkali dipahami secara sederhana sebagai keputusan individu. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Ada peran keluarga, tekanan lingkungan, kondisi ekonomi, hingga norma sosial yang membentuk pilihan tersebut. Ketika satu kasus dilihat lebih dalam, muncul kesadaran bahwa tidak semua hal bisa dinilai hanya dari hasil akhirnya.

Not everything that is faced can be changed, but nothing can be changed until it is faced.” – James Baldwin

Kutipan ini terasa relevan ketika membahas berbagai fenomena yang selama ini cenderung dihindari atau disederhanakan. Menghadapi realitas berarti berani melihat akar masalahnya, bukan sekadar permukaannya.

Pembahasan mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan juga menjadi bagian penting dalam proses belajar ini. Dalam kehidupan sehari-hari, respons terhadap korban sering kali tanpa sadar mengandung penilaian pertanyaan yang seolah netral, tetapi sebenarnya menyudutkan. Melalui diskusi yang terbuka, perspektif mulai bergeser: dari mempertanyakan korban menjadi memahami dampak dan mendukung proses pemulihan. Di sisi lain, topik tentang penyebaran informasi kesehatan reproduksi di Denpasar memperlihatkan tantangan yang tidak kalah besar. Informasi memang tersedia, tetapi tidak selalu akurat atau mudah dipahami. Banyak remaja akhirnya bergantung pada sumber yang belum tentu terpercaya. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan bahwa informasi tersebut sampai dengan cara yang tepat.

The greatest problem with communication is the illusion that it has been accomplished.”  – George Bernard Shaw

Kutipan ini mengingatkan bahwa penyampaian informasi saja tidak cukup. Ada proses panjang agar pesan benar-benar dipahami, diterima, dan diinternalisasi terutama ketika berbicara tentang kesehatan reproduksi yang masih sering dianggap tabu.

Ruang Tantri menjadi contoh bahwa belajar tidak selalu tentang mencari jawaban, tetapi juga tentang mengajukan pertanyaan baru. Pertanyaan tentang bagaimana cara melihat tanpa menghakimi, bagaimana merespons tanpa menyederhanakan, dan bagaimana hadir tanpa membawa asumsi. Dari ruang seperti inilah, perubahan seringkali dimulai bukan dengan langkah besar yang langsung terlihat, tetapi melalui pergeseran cara berpikir yang perlahan namun bermakna.

Share this post

Scroll to Top