
PKBI Daerah Bali menghadiri Seminar Remaja Harmoni yang diselenggarakan PKBI Cabang Buleleng berkolaborasi bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (UKM PIK-M) pada 7 Desember 2025 di Kampus Undiksha, Singaraja. Direktur Eksekutif PKBI Daerah Bali, A.A Ayu Ratna Wulandari, S.KM mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir sebagai bentuk dukungan terhadap edukasi kesehatan reproduksi dan penguatan kapasitas remaja.
Acara dibuka oleh Ketua PKBI Buleleng, dr. Arya Nugraha, Sp.PD, yang menjelaskan bahwa PKBI adalah salah satu gerakan masyarakat yang paling awal pasca kemerdekaan yang lahir dari keresahan atas tingginya angka kematian ibu dan anak waktu itu. Saat ini PKBI telah memperluas fokusnya mulai dari pendampingan remaja, edukasi kesehatan reproduksi, pemahaman hak-hak remaja, serta berbagai isu kemanusiaan lainnya. “PKBI tidak hanya bicara KB. Isu remaja, kesehatan reproduksi, narkoba, hingga HIV/AIDS selalu menjadi bagian penting dalam edukasi kami,” ujarnya.
Seminar diikuti sekitar 100 remaja dari SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi di Singaraja. Para peserta terlihat aktif mengikuti materi yang diberikan. Pada sesi pertama, psikolog dan dosen Undiksha Dewa Gede Fristia Wirabrata, M.Psi, menyampaikan pentingnya kesiapan mental dan emosional sebelum memasuki pernikahan. Ia mengingatkan agar keputusan menikah datang dari diri sendiri, bukan tekanan sosial.
“Menikah itu bukan perlombaan,” tegasnya.
“Jangan terburu-buru hanya karena melihat teman seusia sudah menikah. Nikah itu proses menemukan orang yang cocok hingga tua nanti.” Ia juga menyoroti pentingnya relasi yang setara. “Setiap hubungan harus dibangun atas rasa saling menghargai. Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.”
Sesi kedua dibawakan oleh dr. Nyoman Intan Permatahati Wiguna, M.Biomed, yang menjelaskan organ reproduksi, hormon pada masa pubertas, dan dinamika ketertarikan antar remaja. Ia menekankan perlunya memahami tubuh sendiri sebagai bagian dari tumbuh menjadi dewasa.
“Pada masa remaja, hormon mulai aktif. Ini wajar. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola rasa ingin tahu dan menjaga batas diri,” jelasnya. Terkait hubungan pacaran, ia menegaskan: “Pacaran itu boleh, tapi harus sehat. Ketahui batasan, komunikasikan dengan jelas, dan berani berkata tidak jika merasa tidak nyaman.”
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya remaja yang mengajukan pertanyaan, meski waktu diskusi terbatas, diskusi menjadi sangat hangat dan produktif dengan berbagai pantikan pertanyaan isu terkini dan realitas sosial tantangan yang banyak dihadapi remaja. Mulai dari cara menjaga kesehatan reproduksi hingga mengelola emosi saat berinteraksi dengan orang lain.
Usai kegiatan, beberapa peserta menyampaikan ketertarikan untuk terlibat sebagai relawan PKBI Buleleng. PKBI Cabang buleleng bersama PKBI Daerah Bali terus berkomitmen dalam menyediakan ruang inklusif bagi semua, memberikan ruang seluas-luasnya untuk bersuara dan mendapatkan akses kesehatan.