“Dari hal sederhana itu, saya mulai memahami arti komitmen. Bahwa ruang aman tidak hadir begitu saja. Ia diciptakan, dirawat, dan dijaga bersama.” Refleksi oleh: Ni Putu Karlina Dewi

“Bisakah kita tetap memberi walau tak suci? Bisakah terus mengobati walau membiru?” — Hindia & Rara Sekar, “Membasuh”
Ketika jari ini gundah hendak menggores, menulis, atau sekadar meninggalkan jejak, lirik lagu Membasuh — Hindia & Rara Sekar, perlahan mendekap telinga, membisikan luruh diam-diam, di antara jeda yang tak sempat kita beri nama.
Di sudut sunyi, suara itu patah sebelum sempat lahir,
Dipeluk takut, dibungkam oleh dunia yang gaduh tak adil,
Katanya zaman telah maju, Kartini telah jauh kita rayakan,
Namun luka yang sama, diam-diam masih kita wariskan.
Barangkali kita sering merasa dunia telah bergerak jauh, seolah waktu telah membawa kita keluar dari lorong-lorong gelap masa lalu. Kata “setara” terdengar akrab, ringan meluncur dalam percakapan sehari-hari. Kita percaya bahwa perempuan dan anak telah lebih aman, lebih dilindungi, lebih didengar.
Namun, di sela riuh itu, ada sesuatu yang tetap tinggal. Sunyi. Ia tidak benar-benar pergi. Ia berdiam seperti bayang-bayang yang setia mengikuti tubuh, tak pernah meminta perhatian, tetapi selalu ada. Sunyi yang dipelihara oleh rasa takut, oleh stigma yang diwariskan pelan-pelan, oleh norma yang mengakar seperti akar tua yang enggan tercabut dari tanahnya sendiri.
Sunyi itu nyata. Ia hidup dalam cerita-cerita yang tak pernah selesai dituturkan. Ia bersembunyi di balik mata yang memilih menunduk, di dalam tubuh yang belajar diam karena dunia belum tentu berpihak.
“Kita mungkin sibuk merayakan terang,
tanpa benar-benar menyalakan pelita
di sudut-sudut yang paling gelap.”
Di Bali, di balik keelokan lanskap dan agungnya adat, sunyi itu menemukan bentuknya sendiri. Ia hadir dalam cara kita memahami relasi, dalam bagaimana suara dibagi, dalam siapa yang didengar dan siapa yang dibiarkan tenggelam. Sistem kekerabatan patrilineal, yang telah lama hidup dalam masyarakat, perlahan membentuk cara pandang, bahwa ada yang lebih berhak bersuara, dan ada yang sebaiknya menahan diri.
Saya tidak memahami semua ini dari kejauhan. Ia hadir dari sebuah ruang yang sederhana, hangat, dan jujur adanya. Sebuah ruang yang tidak besar, tetapi terasa luas, karena di dalamnya banyak hal yang selama ini tersembunyi, akhirnya menemukan tempat untuk dilindungi.
Dalam Facilitator Training on Safe School and Family Space for Youth Volunteers yang diselenggarakan oleh PKBI Daerah Bali melalui Program Tantri, saya seperti diajak beranjak pelan. Menyusuri hal-hal yang selama ini mungkin saya lewati begitu saja.
Di sana, kami tidak hanya belajar tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Kami belajar melihat bagaimana hak-hak itu sering kali terhenti sebelum itu benar-benar sampai. Kami berbicara tentang kekerasan seksual, tentang perkawinan anak, tentang relasi yang timpang, namun yang paling tinggal justru cara kami belajar mendengar.
Mendengar tanpa menghakimi, layaknya tanah yang menerima hujan tanpa memilih. Mendengar tanpa tergesa memberi jawaban, seolah memahami bahwa tidak semua luka membutuhkan penjelasan.
Sebab sering kali, yang dibutuhkan bukanlah nasihat panjang, melainkan ruang yang cukup aman untuk berbisik,
”aku merasa tidak nyaman”
“aku sedang tidak baik-baik saja.”
Dan jujur, ini adalah pertama kalinya saya berada di ruang yang berani membicarakan hal-hal itu dengan begitu terbuka. Sejak awal, kami membangun kesepakatan bersama, tentang saling menjaga, saling menghargai, dan saling mendengar. Dari hal sederhana itu, saya mulai memahami arti komitmen. Bahwa ruang aman tidak hadir begitu saja. Ia diciptakan, dirawat, dan dijaga bersama.
Para pemateri hadir dengan cara yang hangat. Tidak berjarak. Tidak kaku. Tidak monoton. Ada tawa yang pecah di sela-sela diskusi, ada cerita yang mengalir tanpa beban. Waktu berjalan tanpa terasa, dan untuk pertama kalinya, saya tidak sibuk melawan kantuk dalam ruang belajar. Saya justru ingin tetap tinggal lebih lama.
Ada banyak momen kecil yang perlahan menjadi besar. Aktivitas yang hangat, percakapan yang sederhana, namun mengendap. Saya berefleksi, pelan-pelan, seperti membuka lapisan yang selama ini mungkin saya tutup rapat.
Dan di ruang itu, saya menemukan sesuatu yang jarang saya rasakan, sebuah rasa aman, bahkan ketika saya sedang tidak baik-baik saja. Disini selalu dihadirkan dekapan yang menjaga saya tetap utuh. Tidak memaksa saya untuk kuat, tetapi memberi ruang untuk berproses.
“Di ruang yang tak menghakimi,
kita belajar menerima diri,
dan perlahan luka ini,
mulai berani bernyanyi.”
Dari sana, saya mulai memahami bahwa bertumbuh tidak selalu tentang seberapa cepat kita melangkah, tetapi tentang di mana kita tumbuh. Lingkungan yang aman membuat kita berani menjadi diri sendiri.
Layaknya benih kecil yang ditanam di tanah yang mencintainya, ia tidak perlu tergesa untuk tumbuh. Ia hanya perlu ruang, waktu, dan kehangatan untuk menjadi. Atau seperti air yang diyakini dapat berubah ketika diiringi kata-kata penuh cinta, barangkali manusia pun demikian. Kita tumbuh dari apa yang kita dengar, dari bagaimana kita diperlakukan.
Dan di ruang itu, saya merasa sedang dibentuk. Bukan menjadi seseorang yang lain, tetapi menjadi diri sendiri, dengan cara yang lebih utuh. Dari kesederhanaan. Dari apa adanya. Dari ruang yang memberi kesempatan untuk berbagi sudut pandang, untuk bebas berpendapat, tanpa takut disalahkan.
Nama “Tantri” membawa ingatan pada kisah lama, tentang Ni Diah Tantri, yang dengan sabar menuturkan cerita demi cerita untuk melunakkan hati seorang raja. Ia tidak melawan dengan kekerasan, melainkan dengan kata-kata. Dengan cerita yang perlahan menggeser cara pandang.
Barangkali, seperti itulah program ini berjalan. Tidak memaksa, tidak menggurui, tetapi mengajak. Mengajak untuk melihat, untuk merasa, untuk memahami. Mengajak kita percaya bahwa perubahan tidak selalu lahir dari suara yang keras, tetapi dari percakapan yang selaras.
Program Tantri, dalam kesederhanaannya, menjadi jawaban yang pelan namun pasti. Ia menyalakan ruang-ruang kecil seperti di sekolah, di keluarga, di komunitas, agar remaja tidak lagi sendirian dengan pertanyaan dan lukanya.
“Tak semua suara harus lantang,
tak semua perubahan harus gaduh,
kadang ia tumbuh diam-diam,
lalu mengubah dunia tanpa kita sadari.”
Pelatihan ini tidak serta-merta menghapus luka. Ia tidak menjadikan dunia tiba-tiba aman. Namun, ia menyalakan sesuatu, kesadaran.
Kesadaran bahwa kekerasan tidak seharusnya dinormalisasikan.
Kesadaran bahwa diam bukan satu-satunya pilihan.
Kesadaran bahwa setiap manusia berhak atas ruang yang aman.
Dari sana, perubahan bergerak. Tidak tergesa, tidak riuh, tetapi pasti. Seperti air yang menetes perlahan, namun mampu melubangi batu. Mungkin benar, perjuangan ini tidak pernah benar-benar selesai. Kita tidak lagi hidup di zaman Kartini, tetapi bukan berarti perjuangannya telah usai. Ia hanya berganti bentuk, menjadi lebih sunyi, lebih tersembunyi, namun tetap nyata.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah sunyi itu ada. Kita telah lama mengetahuinya. Barangkali yang perlu kita tanyakan adalah hal yang lebih jujur
apakah kita akan terus membiarkannya diam,
atau perlahan, dengan segala keberanian yang kita punya,
mulai mengubahnya menjadi suara?













