Tangkapan Layar 2026-04-06 pukul 21.50.51

Mendengarkan Bu Darmi: Suara-Suara Sunyi Perempuan Bali

Refleksi oleh: Komang Ari, Tim Program Tantri PKBI Daerah Bali

“Kututurkan sebuah cerita

Kisah sedih yang jadi biasa

Karena kita menutup mata”

Apa yang terlintas ketika pertama kali mendengar lagu ‘Bu Darmi’ milik musisi kawakan asal Bali, Nosstress? Lagu yang dirilis 2021 silam ini berdurasi kurang dari enam menit. Meski demikian, setiap liriknya seolah ‘memaksa’ kita untuk merenung. 

Bagi sebagian orang, Bali mungkin karib dengan keindahan, budaya yang kental, orang-orang yang ramah, tur-tur wisata tersohor, dan acap kali menyandang gelar pariwisata kelas wahid dunia. Setidaknya, demikian citra Bali yang dapat kita lihat dalam iklan-iklan pariwisata.  Asumsi ini tidak sepenuhnya salah, juga tak sepenuhnya benar sebab di balik layar, ada segudang isu sosial yang jarang tampil di permukaan, salah satunya: ya, Bu Darmi.

Bu Darmi: Kerentanan yang Tidak Berdiri Tunggal

Meski tak diperkenalkan siapa sesungguhnya Bu Darmi, penggambaran sosok perempuan dalam lagu ini terasa familiar dalam nafas kehidupan masyarakat Bali. Barangkali benar, kisah sedih ini jadi biasa karena kita menutup mata (?).

Meminjam kerangka analisis interseksional Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal.  Ia hadir melalui lapisan-lapisan identitas yang saling beririsan: pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya.

Bu Darmi tidak hanya menyandang identitas sebagai perempuan, tetapi juga sebagai perempuan kelas ekonomi menengah ke bawah dengan persoalan sosial-ekonomi yang saling berkelindan. Irisan-identitas inilah yang membuat seseorang berada dalam posisi lebih rentan untuk mengalami kekerasan. Dengan demikian, pengalaman kekerasan tidak bisa dilepaskan dari konteks yang membentuknya.

Dalam konteks Bali, persoalan ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan relasi perkawinan. Tidak mudah bagi perempuan Bali untuk memutus relasi perkawinan, bahkan ketika kekerasan terjadi. Bali yang menganut sistem kekerabatan patrilineal, lazimnya menempatkan pihak laki-laki sebagai poros perkawinan. Meski konsep purusa dan pradana sejatinya tidak merujuk semata pada identitas jenis kelamin, praktik sosial yang berkembang kerap menyederhanakan dan menyalahpahaminya. Maka, muncullah asumsi keliru bahwa purusa dan pradana = laki-laki dan perempuan.

Akibatnya, perempuan Bali berada di persimpangan pilihan: memutus rantai kekerasan atau mempertahankan status adat, dan penerimaan sosial? Jika pulang ke rumah bajang (rumah asal perempuan) pun belum tentu diterima. 

Terlintas di benak Bu Darmi

‘Tuk tinggalkan semua ini

Tapi jadi janda atau mati

Bisa jadi lebih seram ini

Triple Roles Perempuan Bali

Perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) yakni dalam ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan (Oktarina & Komalasari, 2022). Dalam penggambaran lagu Bu Darmi, ia tak hanya menanggung beban keluarga, namun juga memastikan kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi, serta hadir dalam keperluan-keperluan di ranah adat. Lagi-lagi, Nosstress berhasil merekamnya dengan jeli dalam bait berikut:

Menjelang hari raya, Ibu Darmi

Membeli semua perlengkapan di pasar

Uangnya sedikit tapi harus dapat banyak

Terpaksa berhutang walau malu sudah menumpuk

Persoalannya bukan untuk memisahkan manusia Bali dari beragam ritus yang dijalani. Kritik ini justru hadir sebagai refleksi: sudahkah yadnya (korban suci) benar-benar dijalankan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih? Pada saat yang sama, pertanyaan ini menjadi pengingat, dari tattwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual) yang selama ini diyakini sebagai kerangka dasar agama Hindu di Bali, bagian mana yang perlahan memudar dan tak lagi mampu kita laksanakan secara utuh?

Domestikasi Perempuan

Mencoba peruntungan, Bapak Darma

Mempercayakan nasib pada seekor ayam

Uangnya sedikit tapi pengen cepat banyak

Tak menambah uang, Pak Darma menambah hutang

Di sela-sela aktivitas Bu Darmi yang padat, ada fenomena lain yang disuarakan dalam lagu ini. Mempertanyakan kembali peran-peran domestik yang kerap kali dibebankan pada perempuan. Dalam budaya patriarkal, perempuan seringkali diposisikan sebagai subordinat, sebaliknya laki-laki diposisikan secara inferior. Bu Darmi mengisahkan relasi yang timpang antara perempuan dengan sejumlah peran sementara si laki-laki memiliki kebebasan untuk mengakses ruang-ruang rekreatif seperti menyabung ayam. Keduanya lagi-lagi ironi yang patut kita renungkan bersama.

Sementara itu, dalam ranah rumah tangga, perempuan berada pada posisi yang lebih rentan mengalami kekerasan. Data Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat bahwa pada 2024, kekerasan berbasis gender terhadap perempuan (KBGtP) mencapai 330.097 kasus, meningkat signifikan sebesar 14,17 persen dibandingkan 2023 yang berjumlah 289.111 kasus. Kasus yang dilaporkan didominasi oleh KBGtP di ranah personal sebanyak 309.516 kasus, disusul ranah publik dengan 12.004 kasus, serta ranah negara sebanyak 209 kasus. Realitas ini selaras dengan lirik berikut:

Menang mungkin, kalah sudah pasti

Nampaknya begitu, tulis tangannya Pak Darma

Ibu Darmi kembali meringis

Pak Darma jadi bengis, Bu Darmi jadi sasaran

Ironi Pariwisata Bali

Jika Aryantha Soethama menuliskan sisi lain Bali melalui karya-karya sastranya, Nosstress menghadirkan Bali dan kepelikannya lewat lirik-lirik lagu. Bu Darmi memang bukan satu-satunya karya Nosstress yang menyuarakan isu sosial di Bali. Namun, lagu ini barangkali menggambarkan persoalan yang lebih dalam: sebuah ironi struktural yang di dalamnya memuat pola-pola kekerasan sistemik.

Persoalan kekerasan, memang tidak pernah sesederhana yang terlihat. Kita mungkin akrab dengan tagline-tagline andalan yang seolah ‘wah’, misalnya Tri Hita Karana (Tiga penyebab kebahagiaan) meliputi pawongan (hubungan antarmanusia), palemahan (harmoni dengan alam semesta), dan parahyangan (harmoni manusia dengan Tuhan). Tentu tidak ada yang keliru dari falsafah tersebut. Hal ini (baca: Tri Hita Karana) merupakan warisan luhur yang mengandung segudang harapan.  Namun,  sudahkah kita mampu berpihak pada mereka yang kalah? menjaga ekologis, dan mengimani nilai-nilai kemanusiaan dalam keseharian? Ataukah nilai-nilai itu justru berhenti sebagai pemanis dalam promosi pariwisata?  Entahlah, yang jelas lagu Bu Darmi menampar kita berkali-kali:

Gemah-ripah, alamnya harmonis

Begitu tertulis di brosur pariwisata

Ibu Darmi kembali meringis

Keluarga harmonis, perlu tangisan Bu Darmi

Kesetaraan = Kesadaran Kolektif 

Kesetaraan gender bukanlah isu eksklusif milik perempuan semata. Persoalan kesetaraan dan dampak dari ketidakadilan gender merupakan lapisan sistemik yang merugikan banyak pihak. Misalnya, ketika laki-laki dikonstruksikan harus selalu kuat, tidak boleh menangis, dan dituntut menahan emosi. Penggambaran ini lahir dari konstruksi sosial yang patriarkal, yang pada akhirnya menyingkirkan pengalaman-pengalaman manusiawi seseorang. Begitu pula halnya dengan perempuan yang kerap dituntut patuh pada hal-hal yang sebenarnya tidak mereka ‘iya-kan’.

Harus diakui, perjuangan kesetaraan gender kerap disalahartikan sebagai perlawanan identitas: laki-laki versus perempuan. Dari sini muncul sederet narasi yang tidak berimbang, seperti anggapan bahwa jika menuntut kesetaraan maka perempuan seharusnya tidak lagi menuntut nafkah dari suami, atau perdebatan tentang siapa yang lebih unggul secara fisik. Frasa angkat galon pun kerap dimunculkan sebagai contoh kontroversial untuk mengaburkan makna kesetaraan itu sendiri.

Meski secara biologis terdapat hal-hal yang bersifat kodrati seperti menyusui, melahirkan, dan menstruasi, kesetaraan tidak bertumpu semata pada persoalan tersebut. Ia justru lahir dari beragam konstruksi sosial yang selama ini kita alami, warisi, dan anggap lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender bergerak dalam ranah yang lebih kompleks, meliputi advokasi pada hak-hak kemanusian; otoritas manusia atas tubuhnya, pendidikan yang setara, hingga akses yang adil terhadap ruang-ruang publik.

Dalam konteks ini, peran Nosstress dalam menyuarakan isu gender melalui karya-karyanya dapat dibaca sebagai angin segar. Sebuah langkah yang menegaskan bahwa persoalan keadilan bukan semata-mata milik perempuan dan tidak jauh dari kehidupan laki-laki (sekalipun). Diskusi kritis terhadap isu ini di ruang-ruang publik menjadi pengharapan akan keadilan yang lebih menyentuh kehidupan masyarakat. Lantas, masihkah kisah sedih ini jadi biasa karena kita memilih untuk menutup mata?

Share this post

Scroll to Top