TOXIC RELAIOSHIP-2

Antara Cinta dan Luka : Toxic Relationship Jadi Faktor Penurunan Kesehatan Mental Remaja

Oleh: Inggrid

Masa remaja seringkali dipandang sebagai fase kehidupan yang paling indah dan berkesan bagi setiap individu. Pada masa ini, individu akan mengalami banyak perubahan baik secara fisik, sosial, dan emosional. Hal tersebut tentu juga akan mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan dengan individu lain. Salah satu aspek yang sangat menonjol pada fase remaja adalah tumbuh dan berkembangnya rasa cinta dan membangun relasi romantis. Mengacu pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), usia pertama kali remaja Indonesia menjalin hubungan pacaran yakni  di usia 15–19 tahun. Berdasarkan survei tersebut, tercatat bahwa pada tahun 2017 sebanyak 84% remaja laki-laki dan 81% remaja perempuan telah memiliki pengalaman berpacaran (Jayanti et al., 2024). Data ini menunjukkan bahwa hubungan romantis merupakan fenomena yang cukup dominan dan tidak terpisahkan dari kehidupan remaja di Indonesia.

Idealnya hubungan romantis diharapkan dapat menjadi sumber dukungan emosional, rasa aman, serta kebahagiaan bagi individu yang menjalaninya. Hubungan yang sehat ini dapat membantu remaja untuk lebih mengenal diri sendiri, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, hingga membangun rasa empati dan saling menghargai terhadap pasangan. Namun, faktanya tidak semua hubungan romantis berjalan sehat. Pada kasus tertentu, kurangnya kematangan emosional, minimnya pemahaman tentang batasan dalam sebuah hubungan, dan pengaruh lingkungan sosial dapat mengakibatkan hubungan romantis tersebut berkembang ke arah yang tidak sehat dan menjelma sebagai sebuah perangkap yang merugikan. Hubungan semacam ini sering kali disebut dengan istilah toxic relationship.

Toxic relationship atau hubungan toxic adalah relasi tidak sehat yang terjalin antar individu yang ditandai dengan adanya perilaku negatif seperti, manipulasi emosional, kontrol berlebihan, kecemburuan ekstrem, hingga kekerasan secara verbal maupun fisik. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan pada tahun 2023 tercatat terdapat 713 kasus kekerasan oleh mantan pacar dan 422 kasus kekerasan oleh pacar, kasus ini disebutkan terjadi pada rentang usia korban 16-24 tahun (Sengkey et al., 2025). Kondisi ini tentu tidak hanya berdampak pada kualitas hubungan itu sendiri, namun juga akan mempengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis remaja. Tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus membuat individu merasa terjebak dan sulit mengelola emosi secara adaptif, sehingga kondisi mental semakin memburuk yang ditandai dengan munculnya resiko stress, kecemasan, depresi, dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau trauma psikologis jangka panjang, yang mana hal tersebut hanya mampu diketahui melalui diagnosa profesional.

Selain gangguan emosional, toxic relationship juga berdampak signifikan terhadap self-esteem seorang individu. Pasangan yang sering kali merendahkan, menyalahkan, atau bahkan memanipulasi secara emosional dapat menyebabkan individu lainnya merasa tidak berharga dan mulai meragukan nilai serta kemampuan dirinya. Penurunan harga diri ini dapat berdampak luas terhadap hubungan sosial, prestasi akademik, dan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan. Penurunan harga diri dalam toxic relationship berperan besar sebagai pintu masuk munculnya ketergantungan emosional. Ketika seseorang terus-menerus merasa tidak cukup, tidak berharga, atau selalu disalahkan, ia mulai kehilangan kepercayaan pada penilaian dan perasaannya sendiri. Akibatnya ketakutan akan perasaan kesepian, penolakan, atau rasa bersalah membuat individu tetap bertahan. Dalam kondisi ini, individu cenderung bertahan karena merasa pasangan adalah satu-satunya sumber cinta dan pengakuan yang dimilikinya. Pola perlakuan yang bergantian antara menyakiti dan memberi perhatian inilah yang menciptakan ikatan ketergantungan emosional yang kuat. Hal ini pada akhirnya memperpanjang penderitaan psikologis dan memperparah gangguan mental yang dialami. 

Toxic relationship pada remaja tidak selalu lahir dari persoalan pribadi semata, tetapi kerap berakar pada struktur ketimpangan gender yang hidup dalam budaya dan lingkungan sosial. Ketika relasi dibangun di atas asumsi bahwa salah satu pihak harus lebih dominan, lebih mengontrol, atau lebih berkuasa, maka ketidakseimbangan itu mudah berubah menjadi manipulasi, posesivitas, hingga kekerasan emosional. Stereotipe seperti “laki-laki harus mengatur” atau “perempuan harus selalu mengalah” memperkuat standar ganda dan membuat perilaku mengontrol tampak wajar. Dalam konteks ini, remaja sering kali sulit membedakan antara perhatian dan penguasaan, antara cemburu yang dianggap tanda cinta dan kontrol yang merugikan. Ketimpangan tersebut dapat mengikis kepercayaan diri, menumbuhkan rasa takut kehilangan, serta membuat korban merasa bersalah atau tidak cukup baik, yang pada akhirnya berdampak serius pada kesehatan mental.

Untuk menangani situasi ini, langkah pertama adalah menyadari bahwa hubungan yang dijalani tidak sehat dan memahami bahwa ketimpangan tersebut bukan hal yang normal untuk dipertahankan. Remaja perlu belajar mengenali batasan pribadi, membangun kembali rasa percaya diri, serta menolak pola relasi yang merendahkan atau mengontrol. Membuat batas yang tegas, mengurangi ketergantungan emosional, dan mencari dukungan dari teman, keluarga, atau tenaga profesional menjadi langkah penting dalam proses keluar dari hubungan toxic. Edukasi tentang kesetaraan gender dan relasi sehat juga krusial agar remaja mampu membangun hubungan yang setara, saling menghormati, dan bebas dari dominasi. Keluar dari hubungan yang tidak sehat memang tidak mudah, tetapi itu adalah bentuk keberanian dan upaya menjaga kesehatan mental.

Membutuhkan bantuan, teman-teman bisa mengakses layanan bercerita di Kisara Bali lewat Pacar Idaman (Partner Cerita Asik dan Nyaman) melalui kontak 085175026114

Share this post

Scroll to Top