
Tanggal 21 Desember Kisara PKBI Bali melaksanakan kegiatan di Teman Sayur. Di tengah padatnya Kota Denpasar, di antara bangunan yang rapat dan ritme hidup yang serba cepat, Kisara mengajak remaja untuk berhenti sejenak. Merekam kilas balik perjalanan satu tahun, menarik napas, mengendapkan rasa, dan saling menguatkan. Kegiatan bertajuk “Jeda Sejenak: Menangkap Kekuatan dan Membangun Collective Care untuk Remaja di Tengah Bencana” ini menjadi ruang aman bagi sekitar 40 remaja untuk berefleksi bersama.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh satu tahun yang tidak mudah bagi Bali. Berbagai bencana yang terjadi silih berganti bukan hanya meninggalkan dampak fisik, tetapi juga jejak psikologis, terutama bagi remaja. Ketidakpastian, rasa takut, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan emosional menjadi pengalaman yang kerap tidak terlihat, namun nyata dirasakan. Dalam situasi seperti ini, jeda menjadi kebutuhan.
Teman Sayur menjadi ruang yang dipilih Kisara untuk berkumpul. Sebuah kebun di tengah kota yang menghadirkan suasana berbeda. Lebih tenang, lebih hangat, dan terasa terasa lebih hidup. Peserta duduk lesehan, menikmati makanan olahan rumahan dari berbagai tumbuhan segar, serta minuman yang diambil langsung dari kebun. Kesederhanaan ini justru menciptakan rasa aman dan kedekatan, seolah mengingatkan bahwa merawat diri dan satu sama lain bisa dimulai dari hal-hal paling dasar.
Kegiatan ini dipandu oleh dua fasilitator dengan latar belakang berbeda namun saling melengkapi: Kak Anggara, seorang fotografer, dan Kak Zahrah, seorang psikolog. Keduanya membawa peserta untuk melihat pengalaman hidup dari sudut pandang yang lebih pelan dan penuh kesadaran.
Melalui sesi fotografi, Kak Anggara mengajak peserta untuk memahami bahwa kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan medium terapi. Peserta diajak untuk mengambil satu foto yang menjadi kekuatan peserta. Kemudian mereka dapat menceritakan foto yang diambil, apa cerita dibalik jepretan tersebut. Dalam proses ini, fotografi menjadi latihan mindfulness: belajar hadir sepenuhnya pada menikmati setiap momen yang ada.
“Kita sering terburu-buru melihat sesuatu, padahal ketika kita memperlambat langkah, banyak makna yang bisa ditangkap,” kurang lebih demikian pesan yang disampaikan. Setiap foto yang diambil bukan tentang bagus atau tidaknya komposisi, melainkan tentang relasi personal antara pengambil gambar dan objeknya. Apa yang menarik perhatian kita? Mengapa kita memilih sudut tertentu? Apa yang sedang kita rasakan saat menekan tombol kamera?
Pendekatan ini membuka ruang refleksi yang dalam. Peserta mulai menyadari bahwa apa yang mereka potret sering kali merefleksikan kondisi batin mereka sendiri. Fotografi, dalam konteks ini, menjadi bahasa alternatif untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Refleksi tersebut kemudian diperdalam melalui perspektif psikologis yang disampaikan oleh Kak Zahrah. Ia menjelaskan bahwa mencatat pengalaman, baik melalui tulisan, gambar, maupun ingatan, merupakan bagian penting dari proses memahami diri. Emosi, menurutnya, bukan sesuatu yang harus dihilangkan atau ditekan. Setiap emosi memiliki fungsi dan pesan.
“Emosi tidak bisa dihapus, tapi bisa divalidasi dan dirasakan,” menjadi benang merah dari sesi ini. Ketika remaja belajar mengurutkan apa yang mereka alami dan rasakan, mereka sedang membangun kemampuan untuk mengenali diri dan merawat kesehatan mentalnya. Proses refleksi membantu individu menyadari bahwa rasa takut, cemas, sedih, atau lelah adalah respons yang manusiawi, terlebih di tengah situasi bencana dan ketidakpastian.
Lebih dari sekadar refleksi individu, kegiatan ini menekankan pentingnya collective care—perawatan yang dilakukan bersama. Kita hidup berdampingan dengan banyak orang, dan dalam kondisi krisis, kekuatan kolektif menjadi penopang yang sangat berarti. Dengan berbagi cerita, mendengarkan satu sama lain, dan hadir tanpa menghakimi, peserta merasakan bahwa mereka tidak sendirian.
Menjelang akhir tahun, momen ini menjadi pengingat penting. Bahwa di tengah tuntutan produktivitas dan hiruk pikuk kota, kita berhak untuk berhenti sejenak. Bahwa melipir ke sebuah kebun kecil di antara gedung-gedung tinggi bisa menjadi bentuk perlawanan yang lembut terhadap kelelahan kolektif. Bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari bergerak cepat, tetapi dari keberanian untuk melambat dan merasakan.Kisara PKBI Bali percaya bahwa perjuangan isu kemanusiaan dan hak-hak remaja adalah proses yang panjang, dan kadang prosesnya melelahkan atau pada akhirnya membawa kita ke titik frustasi. Tetapi, dengan berkumpul kembali, berbagi ruang dan cerita dengan sesama pada akhirnya mampu menciptakan kekuatan bersama. Collective care menjadi satu ruang aman untuk kembali menyadari kerentanan, kelemahan sekaligus kekuatan yang dimiliki, selamat merayakan akhir tahun. Besok kita mulai kembali.

