IMG_1658

Mencari Data dalam Penelusuran Jejak Perundungan : Cerita Perjalanan Enumerator Sekolah Aman

​Di tengah berkembangnya upaya program Sekolah Aman Dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa, pemetaan kasus perundungan merupakan langkah krusial guna memahami realitas yang mereka alami di lingkungan sekolah. Ni Kadek Novianti atau akrab disapa Via, merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 7 yang menjadi salah satu sosok di balik proses pemetaan data perundungan di beberapa sekolah provinsi Bali. Sebagai seorang relawan KISARA PKBI BALI, Via banyak memperoleh kesempatan untuk mencoba hal baru yang berkaitan dengan dunia remaja, salah satunya pada program Sekolah Aman.Keinginan Via untuk menjadikan sekolah sebagai “rumah” yang menyambut setiap siswa dengan lingkungan aman dan supportive, membawa Via turut terjun sebagai enumerator dalam program Sekolah Aman ini. 

Saat pertama kali turun ke lapangan, Via menghadapi berbagai pengalaman baru. Di sekolah pertama yang dikunjunginya, Via mengalami kesulitan untuk fokus karena keterbatasan fasilitas pendukung serta kondisi cuaca yang sangat panas membuat proses pengambilan data terasa cukup melelahkan. Namun, antusiasme para siswa dalam menjawab dan menanyakan setiap butir pertanyaan penelitian sangat membantu Via dalam mengidentifikasi tantangan yang muncul selama proses tersebut. “Saya sangat takjub melihat wajah-wajah siswa yang bersemangat untuk membaca dan memahami pertanyaan di kuesioner itu,” katanya.

Kemudian di sekolah kedua, situasinya sangat berbeda dengan lokasi pertama. Jika di daerah perkotaan tantangannya lebih bersifat teknis, maka di wilayah rural ia justru menemukan hambatan yang lebih menonjol, seperti perbedaan persepsi antara dirinya sebagai enumerator dan siswa sebagai responden. Selain itu, beberapa siswa merasa kesulitan memahami makna pertanyaan karena adanya kosakata yang asing untuk mereka. Via pun mempertanyakan dirinya sendiri, kenapa anak-anak ini tidak mengerti maksudnya padahal sudah dijelaskan? Namun, akhirnya ia tersadar bahwa setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing. “Karena itu, saya menjadi belajar banyak bagaimana ilmu yang saya miliki bisa saya bagikan dan menjadi manfaat untuk mereka kedepannya,” harapnya. Tak hanya itu, semua tantangan tersebut berhasil ia lalui dengan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan berupaya membangun kedekatan dengan siswa sebagai teman berdiskusi. Pendekatan inilah yang akhirnya membuat proses pengambilan data berjalan lebih lancar dan efektif.                     

Selama proses pengumpulan data berlangsung, pandangan Via tentang pentingnya lingkungan sekolah dan peran orang tua terhadap kesehatan mental remaja, terutama terkait tindakan perundungan, semakin terbentuk. Ia menyadari bahwa pemilihan sekolah dan lingkungannya, serta kehadiran orang tua sebagai tempat aman bagi anak, merupakan aset penting bagi masa depan remaja. “Dari pengalaman ini, saya percaya lingkungan suportif adalah privilege yang seharusnya dapat diakses oleh seluruh remaja,” tegasnya.

Pada akhirnya, pengalaman ini merubah perspektif Via dalam melihat perkembangan remaja di sekolah. awalnya menganggap semua sekolah itu sama tergantung individu tetapi belakangan ini saya menyadari bahwa individu tersebut dari lingkungan yang membentuk jati dirinya. “Saya harap lewat program Sekolah AMAN. kita bisa mewujudkan lingkungan yang nyaman untuk mengejar cita-citanya,”harap Via.

Share this post

Scroll to Top